Search This Blog

Tuesday, February 8, 2011

Pernah Ngutangin Teman ??????????

Pernah ngutangin teman?

Pernah gak dilunasin? bahkan si pengutang berpura-pura lupa?
Marah dong? kesel? .. padahal kan uangnya juga buat diputer lagi ... kalo gk dibalikin?
uhh .. ini ujian banget buat teman2 yang pernah mengalaminya, apalagi teman2 yang pedagang :D

so, baca kisah ini yuk, insyaAllah bisa jadi pelajaran .. kedepannya teman sudah lebih arif lagi menyikapi persoalan ini .. aminn ..

Dia berdiri di depan hakim dan mengingkari bahwa ia telah berutang sebanyak 500.000 dinar milik ahli waris Syekh Ibrahim Muhammad. Hakim memintanya untuk bersumpah bahwa Syekh Ibrahim tidak pernah memberinya utang sebanyak itu dan pemberian itu bukan utang. Lalu ia bersumpah kemudian setelah itu hakim menetapkan bahwa ia tidak berutang. Belum lagi ia sempat keluar dari pintu pengadilan, ia terjatuh dan mati.

Kejadian ini terjadi pada tahun 1954 di salah satu kota di negara Irak. Namun kisah tersebut tidak bermula seperti ini. Kami akan ceritakan kisah kejadian sebenarnya.

Syekh Ibrahim adalah seorang pedagang besar yang dermawan. Ia tidak pernah menolak orang yang meminta atau mengecewakan orang yang berharap kepadanya.

Pada suatu hari Sayyid Jabir datang ke kantor beliau di Khan Syath di tepi sungai Tigris, lalu mengemukakan maksudnya. Sayid Jabir berkata kepada Syekh Ibrahim, “Saya adalah tetangga Anda, ayahku termasuk sahabat karib Anda. Ketika wafat, ia berpesan jika saya ada keperluan atau ada kesulitan agar meminta bantuan Anda. Sebagaimana Anda ketahui bahwa pada tahun ini hasil panen tidak menguntungkan, tanah menjadi kering, hujan tidak turun dan kondisi semakin sulit.
Aku tak tahu bagaimana cara mengatasinya. Aku telah berutang kepada rentenir. Aku harus membayar utangku tersebut, jika tidak maka rahasiaku akan terbongkar dan rival-rivalku akan tertawa melihatku. Hari ini aku mendatangi Anda semoga Anda sudi meminjamkan uang sebesar 500.000 dinar untuk membayar utang yang melilit leherku kepada rentenir, membeli bibit dan untuk mengatasi urusanku. Aku berjanji akan membayar utangku pada musim panen gandum di tahun depan.”

Syekh berdiri ke brankas uang yang ada di kantornya dan memberikan kepada Sayyid Jabir lalu menuliskan jumlah uang tersebut dalam buku kas. Jabir mengucapkan rasa terima kasihnya atas pemberian itu dan meminta agar dituliskan dibuat surat promes (surat pengakuan utang). Namun, Syekh berkata, “Terima kasih saya rasa tidak perlu, cukuplah Allah saksi antara engkau dan aku, Dia sebaik-baik Wakil dan sebaik-baik saksi.”

Satu tahun kemudian Syekh Ibrahim meninggal dunia secara mendadak karena serangan jantung dengan meninggalkan seorang istri dan empat orang anak, yang sulung masih berusia 13 tahun. Istri beliau memeriksa buku-buku kas perdagangan suaminya yang dibantu oleh saudaranya yang profesinya sebagai seorang pengacara. Dari dalam buku tersebut si istri mengetahui secara rinci orang-orang yang berutang kepada suaminya.

Hari-hari dan bulan terus berlalu setelah kematian suaminya, lalu ia mengirim utusan ke Sayyid Jabir untuk menagih utang suaminya. Tetapi, Sayyid Jabir mengingkari bahwa ia pernah berutang kepada suaminya. Ia mengaku telah membayar utang tersebut kepada suaminya. Mungkin suaminya lupa mencatat pembayaran tersebut di buku kas.

Kisah ini terdengar oleh orang banyak. Sebagian mendengar bahwa Syekh Ibrahim telah memberikan utang kepada Sayyid Jabir dan mereka katakan bahwa Sayyid telah membayar utang tersebut. Jika Sayyid Jabir masih berutang tentunya ia telah menunjukkan kepada ahli waris promes (surat pengakuan utang) setelah Syekh Ibrahim meninggal.

Dalam menanggapi masalah ini para tetangga terbagi menjadi dua kubu, kubu yang berpihak kepada ahli waris Syekh Ibrahim yaitu mereka mengatakan bahwa beliau meminjamkan uang dengan mencukupkan hanya Allah sebagai saksi tanpa ada surat-surat perjanjian dan kubu yang membela Sayyid Jabir, mereka katakan bahwa tidak mungkin Syekh Ibrahim memberi sejumlah uang tanpa ada promes.

Istri Syekh Ibrahim meminta bantuan beberapa orang-orang shalih di lokasinya untuk membujuk agar Sayyid Jabir mau membayar utang tersebut. Namun, ia tetap mengingkarinya dan tetap bersikeras serta menolaknya, seakan ia sebuah batu gunung yang keras.

Sebagaimana (di kalangan bangsa Arab-red) obat yang dijadikan pamungkas adalah kay (besi yang dipanaskan), demikian juga akhir perselisihan diputuskan melalui pengadilan. Perkara ini diangkat ke dewan hakim. Istri Syekh Ibrahim mewakilkan perkara ini kepada saudaranya yang pengacara untuk melaporkannya kepada para hakim.

Pada hari persidangan, si tertuduh hadir di depan pengadilan, lalu menyerahkan urusan ini kepada hakim yang menceritakan secara rinci kepadaku kisah tersebut. Di antara yang ia katakan, “Aku sangat yakin bahwa Sayyid Jabir pernah berutang kepada Syekh Ibrahim sebanyak itu. Namun, aku tidak punya bukti sama sekali selain buku kas yang mencantumkan uang yang telah dia pinjamkan kepada masyarakat. Hanya berupa bukti ini, tidak cukup kuat untuk dijadikan Sayyid sebagai tertuduh.”

Sayyid Jabir tidak mengingkari bahwa ia pernah berutang dengan Syekh Ibrahim, tetapi ia katakan bahwa ia sudah memulangkan utang tersebut setahun setelahnya.

Salah seorang saksi mengatakan bahwa ia mendengar bahwa Sayyid Jabir memuji Syekh Ibrahim dan menyebutkan bahwa ia telah menyelamatkannya dari kemiskinan dan kefakiran dengan memberinya pinjaman uang dan menjadikan Allah sebagai saksi, namun saksi tersebut tidak menyebutkan jumlah uang yang dipinjam dan kapan ia mendengarnya dari Sayyid Jabir.

Semua perkara ini seakan terbang dihembus angin. Aku berusaha menggiringnya agar mengakui utang tersebut, namun dia dapat berkelit dalam memberikan jawaban.

Dalam menyelesaikan perkara seperti ini harus menggunakan kaidah, “Penuduh harus mendatangkan bukti dan sumpah bagi yang mengingkari.”

Aku katakan kepada si tertuduh, “Apakah Anda berani bersumpah dengan nama Allah bahwa Anda punya utang 500.000 dinar dengan Syekh Ibrahim dan sudah Anda bayar kepada Syekh?”
Tertuduh menjawab, “Aku bersumpah atas nama Allah.”
Lalu ia memberikan sumpahnya. Kemudian sang hakim menetapkan bahwa Sayyid Jabir tidak berutang.

Tertuduh keluar dari persidangan dengan sombong seraya mengangkat kepala. Ia saat itu sangat bersemangat, gagah, sehat, kuat dan masih berusia muda. Ketika hendak meninggalkan persidangan bersama para hadirin, tiba-tiba aku mendengar suara gaduh dari ruang persidangan.

Aku bergegas keluar melihat apa gerangan yang sedang terjadi. Aku terkejut melihat si tertuduh yang tadi di hadapanku, yang sebelumnya dalam keadaan segar-bugar, bersemangat, masih muda dan gagah tiba-tiba tergeletak di lantai dengan mata terbelalak, mulut terbuka dan wajah menguning seolah-olah pohon busuk yang tumbang di atas tanah tidak mempunyai kekuatan apa pun. Orang-orang di sekitarnya berbisik, “Ia telah mati.”

Istri Syekh Ibrahim tinggal di dekat rumah. Dia masih mempunyai hubungan keluarga denganku dan aku ingin mendengar kisah tersebut darinya maka aku bertanya tentang berita tersebut. Di antara yang ia katakan,

“Syekh Ibrahim adalah seorang yang senang berbuat baik kepada masyarakat terutama kepada para tetangga beliau. Beliau meminjamkan uang kepada orang-orang yang membutuhkan dengan hanya mencatat utang tersebut di buku pribadinya.
Aku pernah menyesali perbuatannya itu, namun ia berkata, ‘Harta ini milik Allah, dahulu aku fakir lalu Allah memberi aku kekayaan. Dahulu aku yatim kemudian Allah memberi aku perlindungan. Aku tidak akan menghardik anak yatim dan membentak si peminta.’ Biasanya ia mengakhiri ucapannya, ‘

Wahai seandainya setiap kuburan mempunyai utang kepadaku.’ Aku menyaksikan persidangan Sayyid Jabir dan aku mendengar ucapannya dan aku tidak ragu bahwa Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Setelah terdakwa memberikan sumpahnya maka Hakim memutuskan bahwa ia tidak berutang. Ketika tertuduh bersumpah, tubuhku merinding karena aku yakin sekali bahwa ia berbohong dan telah durhaka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pada saat itu aku bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,

‘Sesungguhnya Engkau mengetahui yang rahasia dan yang tersembunyi dan Engkau Maha Mengetahui ilmu-ilmu gaib, jika Sayyid Jabir berdusta dalam sumpahnya maka jadikanlah ia sebagai pelajaran bagi manusia… wahai yang Maha Kuat dan Maha-perkasa. Si tertuduh keluar dari ruang sidang dan aku memperhatikannya namun beberapa langkah dari pintu ruang sidang ia jatuh dan mati.”

Sungguh Sayyid telah selamat dari hukum dunia namun ia takkan selamat dari Hakim langit dan bumi. Tidak terjadi pertengkaran antara Sayyid dan ahli waris Syekh Ibrahim, bahkan yang terjadi antara dia dan Penguasa langit dan bumi.

Pada suatu malam di musim dingin, ketika udara dingin sangat menusuk disertai dengan curahan hujan, ketika orang-orang sudah beranjak ke peraduan dan udara dingin tidak membiarkan mereka menikmati kehangatan dan waktu istirahatnya, pada saat itu malam sudah larut dan gelap gulita tiba-tiba bel rumah Syekh Ibrahim berdering terus menerus dengan kuat. Seorang wanita berpakaian hitam di temani seorang anak berusia enam tahun berada di pintu. Istri Syekh Ibrahim membuka pintu tersebut untuk melihat siapa gerangan sang pengetuk pintu, ternyata ia adalah istri Sayyid Jabir bersama anak tunggalnya.

Istri Sayyid Jabir berkata kepada istri Syekh Ibrahim, “Suamiku telah mengingkari bahwa ia berutang kepada Syekh Ibrahim, namun aku tahu ia berdusta. Aku telah mengharapkan padanya agar ia mau membayar utang tersebut dan aku terus mendesaknya, namun tetap bersikeras melakukan kejahatannya itu.”
Dan sekarang suamiku telah membayar kedustaannya dengan harga yang sangat mahal. Inilah uang yang dulu pernah dipinjam suamiku dari suamimu.”

Lalu ia meletakkan kantong yang berisikan uang sebanyak 500.000 dinar lantas bergegas kembali ke rumahnya diikuti oleh anaknya tanpa mendengar sepatah kata pun dari istri Syekh Ibrahim. Istri Syekh Ibrahim tercenung di pintu rumahnya melihat dua bayangan pergi hingga hilang di kegelapan. Ia pergi ke peraduan sambil mendengar derai air hujan dan hembusan angin.

Allah tidak lupa dengan semut hitam di bawah batu hitam bagaimana mungkin Dia lupa denganmu wahai manusia..?

Tidakkah engkau membaca Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (artinya),

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya.” (QS. Huud [11]: 6).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya ruh suci berhembus di jiwaku bahwa setiap yang bernyawa tidak akan mati hingga ia memperoleh semua rezekinya.”

Sesungguhnya keyakinan terhadap Allah, beriman, bertauhid, bertawakkal dan berbaik sangka kepada-Nya adalah jalan kebaikan dan kesejahteraan.


[Sumber: Serial Kisah Teladan karya Muhammad Shalih al-Qahthani, seperti yang dinukil dari Kisah-Kisah Su’ul Khatimah karya Manshur bin Nashir al-’Iwaji, dengan perubahan seperlunya]

1 comment: