Search This Blog

Friday, July 14, 2017

AVICENNA _Doktornya Para Dokter)



PENDAHULUAN

Kedokteran (medicine) adalah Suatu ilmu dan seni yang mempelajari tentang penyakit dan cara-cara penyembuhannya. Ilmu kedokteran adalah cabang ilmu kesehatan yang mempelajari tentang cara mempertahankan kesehatan manusia dan mengembalikan manusia pada keadaan sehat dengan memberikan pengobatan pada penyakit dan cedera. Ilmu ini meliputi pengetahuan tentang sistem tubuh manusia dan penyakit serta pengobatannya, dan penerapan dari pengetahuan tersebut.
Dahulu sebelum orang mengenal dokter, apabila ada yang sakit mereka akan mendatangi seorang tabib yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit yang dideritanya. Para tabib tersebut akan dianggap layak untuk mengobati psien apabila telah menjalani pendidikan formal tentang pengobatan. Dengan berkembangnya zaman banyak ditemukan cabang - cabang ilmu pengobatan. Ilmu kedokteran umumnya dianggap memiliki berbagai cabang spesialis, dari pediatri (ilmu kesehatan anak), ginekologi (ilmu penyakit pada wanita), neurologi (ilmu penyakit saraf), hingga melingkupi bidang lainnya seperti kedokteran olahraga, dan kesehatan masyarakat.
Sejak awal sejarah manusia sistem pengobatan dan prakteknya telah berkembang pesat. Sistem ini  berkembang dengan latar belakang suatu daerah dengan kebudayaan yang menyertainya.ilmu kedokteran modern berkembang di dunia barat sejak terbentuknya awal zaman modern. Tetapi, tindakan pengobatan secara tradisional masih banyak digunakan di seluruh dunia yang sering disebut Biomedis atau Tradisi Hippokrates. Sistem pengobatan secara biomedis adalah tradisi Ayurveda dari India dan pengobatan tradisional Tionghoa. Berbagai tradisi perawatan kesehatan non konvensional juga dikembangkan di dunia Barat yang berbeda dari ilmu kedokteran pada umumnya. Di berbagai tempat, sistem kedokteran Barat seringkali dipraktikkan bersama-sama dengan sistem kedokteran tradisional setempat atau sistem kedokteran lainnya, meskipun juga dianggap saling bersaing atau bahkan bertentangan.
Pada mulanya, sesuai dengan budaya dan tradisi manusia menggunakan tumbuh-tumbuhan dan hewan sebagai media pengobatan. Ini sesuai dengan kepercayaan magis mereka yakni animismesihir, dan dewa-dewi. Masyarakat animisme percaya bahwa benda mati pun memiliki roh atau mempunyai hubungan dengan roh leluhur. Ilmu kedokteran berangsur-angsur berkembang di berbagai tempat terpisah yakni Mesir kunoTiongkok kunoIndia kunoYunani kunoPersia, dan lainnya. Sekitar tahun 1400-an terjadi sebuah perubahan besar yakni pendekatan ilmu kedokteran terhadap sains. Hal ini menjadikan perdebatan dan penolakan oleh tokoh-tokoh masa lalu.  Akan tetapi, dengan datangnya para ahli sains dan dengan teori yang lebih masuk akal, ilmu kedokteran modern mulai mendapat tempat. Ilmu kedokteran yang seperti dipraktikkan pada masa kini berkembang pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 di Inggris (oleh William Harvey, abad ke-17), Jerman (Rudolf Virchow) dan Perancis (Jean-Martin CharcotClaude Bernard). Ilmu kedokteran modern, kedokteran "ilmiah" (di mana semua hasil-hasilnya telah diujicobakan) menggantikan tradisi awal kedokteran Barat, herbalisme, humorlasime Yunani dan semua teori pra-modern. Pusat perkembangan ilmu kedokteran berganti ke Britania Raya dan Amerika Serikat pada awal tahun 1900-an (oleh William OslerHarvey Cushing). Kedokteran berdasarkan bukti (evidence-based medicine) adalah tindakan yang kini dilakukan untuk memberikan cara kerja yang efektif dan menggunakan metode ilmiah serta informasi sains global yang modern. Kini, ilmu genetika telah mempengaruhi ilmu kedokteran. Hal ini dimulai dengan ditemukannya gen penyebab berbagai penyakit akibat kelainan genetik, dan perkembangan teknik biologi molekuler. Ilmu herbalisme berkembang menjadi farmakologi. Masa modern benar-benar dimulai dengan penemuan Heinrich Hermann Robert Koch bahwa penyakit disebarkan melalui bakteria (sekitar tahun 1880), yang kemudian disusul penemuan antibiotik (sekitar tahun 1900-an). Antibiotik yang pertama kali ditemukan adalah obat Sulfa, yang diturunkan dari anilina. Penanganan terhadap penyakit infeksi berhasil menurunkan tingkat infeksi pada masyarakat Barat. Oleh karena itu dimulailah industri obat.
Pada awal berkembangnya ilmu kedokteran ada seorang tokoh yang sangat jenius dan handal dalam mempelajari dan mempraktekkan ilmu pengobatan, Dia adalah Avicenna atau Ibnu Sina. Beliau sangat besar sekali jasanya dalam perkembangan ilmu kedokteran hingga kini. Sampai-sampai buku karangannya yang berjudul Al Qonun atau yang disebut sebagai Canons merupakan kitab sucinya ilmu kedokteran. Tanpa merujuk buku tersebut seorang ahli ilmu pengobatan tidaklah lengkap dalam mengobati pasiennya.
Ibnu Sina mulai menjadi terkenal setelah berhasil menyembuhkan penyakit Putera Nub Ibn Nas al-Samani yang gagal diobati oleh doktor yang lain. Kehebatan dan kepakaran dalam bidang pengobatan tidak ada bandingannya sehingga beliau diberikan gelar al-Syeikh al-Rais (Mahaguru Pertama). Avicenna merupakan seorang yang jenius karena penguasaannya dalam berbagai ilmu menjadikannya sebagai seorang sarjana yang serba bisa. Beliau tidak hanya jenius dalam penguasaan teori tetapi juga dalam prakteknya, sehingga dengan cepat beliau mencapai tahap puncak kecemerlangannya dalam bidang yang digelutinya. Selain ilmu kedokteran yang mencapai puncak kecemerlangannya beliau juga cemerlang dan menduduki rangking pertama dalam bidang ilmu logika sehingga beliau mendapat gelar sebagai guru ketiga. Dalam bidang penulisan, Ibnu Sina telah menghasilkan ratusan karya termasuk kumpulan risalah yang mengandung hasil sastra kreatif.
Hal  yang lebih menakjubkan dari Ibnu Sina adalah beliau juga seorang Filsuf yang terkenal. Beliau pernah menulis sebuah buku yang berjudul al-Najah yang berisi tentang persoalan falsafah. Pemikiran falsafah Ibnu Sina merujuk pada aliran falsafah al-Farabi yang digunakan oleh Aristoteles sebagai pedoman pemikirannya. Dengan begitu pandangan pengobatan Ibnu sina turut dipengaruhi oleh asan dan teori dari Yunani khususnya Hippocrates. Pengobatan Yunani berdasar empat teori unsur yang diberi nama humours yaitu darah, lendir, empedu kuning, dan empedu hitam. Menurut teori humours manusia harus selalu dalam keadaan seimbang bila ingin selalu sehat. Karena keempat unsur tersebut harus selalu berkesinambungan dan dalam keadaan seimbang, pabila salah satu unsur terganggu atau hilang keseimbangnnya maka tubuh akan dlam keadaan sakit. Karena Setiap individu mempunyai keseimbangan yang berlainan maka yang disebut seimbang adalah menurut ukuran tubuh masing-masing. Walaupun begitu, teori diatas tidak dapat dijadikan ukuran tepat untuk mengenal pasti sumber penyakit yang menjangkiti manusia.
Ibnu Sina percaya bahwa setiap tubuh terdiri dari empat unsur penting yaitu tanah, air, api dan angin. Keempat unsur ini memberikan sifat lembab, sejuk, panas dan kering serta senantiasa bergantung pada unsur lain yang terdapat dalam alam ini. Ibnu Sina percaya bahwa dengan keseimbangan unsur tersebut maka tubuh akan lebih kuat dalam menangkal segala jenis penyakit. Jadi, selain keseimbangan unsur-unsur yang dinyatakan itu, manusia juga memerlukan ketahanan yang kuat dalam tubuh untuk menjaga kesehatan dan proses penyembuhan.
Pada zaman keemasan Islam, Ibnu Sina menciptakan karya tentang berbagai risalah tubuh dimana, dirujuk dari terjemahan Yunani – Romawi, Persia dan India yang dipelajari dengan berbagai metode. Oleh desakan sekolah al-Kindi, teks Yunani – Romawi dihapus dan dikembangkan secara substansial oleh intelektual Islam, yang juga dikembangkan oleh Persia dengan didasarkan pada sistem matematika india, astronomi, aljabar, trigonometri dan obat-obatan. Dinasti Samanid di timur Persia, Dataran tinggi khorasan dan Asia Tengah serta Dinasti Buyid di bagian barat persia dan Irak memberikan suasana yang baik untuk pengembangan Akademis dan Kebudayaan. Dibawah Samanids, Bukhara menyaingi Baghdad sebagai ibukota budaya dunia Islam.
Kajian Quran dan Hadis tumbuh sedemikian rupa dengan suasana yang sangat ilmiah. Filsafat, Fiqih dan teologi (kalam) telah dikembangkan lebih lanjut, oleh Ibnu Sina. Ibnu Sina juga memiliki akses ke perpustakaan besar Balkh, Khwarezm, Gorgan, Rey, Isfahan dan Hamedan. Dengan merujuk banyaknya tulisan seperti ‘Ahd yang dikarang oleh Bahmanyar, Ibnu Sina berdebat dengan ulama besar waktu itu tentang Filosofi. Seperti yang digambarkan oleh Aruzi Samarqandi dalam empat artikelnya, sebelum Ibnu Sina meninggalkan Khwarezm beliau bertemu dengan Abu Rayhan Biruni ( seorang ilmuwan dan astronomer terkenal), Abu Nasr Iraqi ( Ahli Matematika), Abu Sahl Masihi ( filsuf yang dihormati) dan Abu al-Khayr Khammar ( Guru Besar Fisika).
Pengaruh Yunani dalam pemikiran Ibnu Sina tidak saja dalam hal pengobatan dan kesehatan tetapi juga dalam bidang. Ibnu Sina mempunyai pemikiran bahwa ilmu matematika boleh dan dapat digunakan untuk mengenal Tuhan. Pandangan tersebut pernah dikemukakan oleh ahli falsafah Yunani yaitu Pythagoras. Pythagoras menggunakan ilmu matematika untuk menguraikan mengenai sesuatu kejadian. Menurut Pytahagoras, sesuatu apapun yang mempunyai angka-angka dan angka itu berkuasa di alam ini. Berdasarkan pandangan itu, maka Imam al-Ghazali berpendapat bahwa pemahaman Ibnu Sina adalah sesat dan dapat merusak kepercayaan Yahudi dan Nasrani. Sebenarnya, Ibnu Sina tidak pernah menolak kekuasan Tuhan. Dalam buku An-Najah, Ibnu Sina telah menyatakan bahwa pencipta yang dinamakan sebagai “Wajib al-Wujud” ialah satu. Dia tidak berbentuk dan tidak boleh dibagikan dengan cara apa sekalipun. Menurut Ibnu Sina, segala yang wujud (mumkin al-wujud) terbit daripada “wajib al-wujud” yang tidak ada permulaan.
Pemikiran falsafah dan konsep ketuhanannya telah ditulis oleh Ibnu Sina dalam bab “Hikmah Ilahiyyah” dalam pasal “Tentang adanya susunan akal dan nufus langit dan jirim atasan.” Pemikiran Ibnu Sina ini telah menimbulkan kontroversi dan telah disifatkan sebagai satu percobaan untuk membahas zat Allah. Al Ghazali telah menulis sebuah buku yang berjudul Tahafat al Falsafah (Tidak ada kesinambungan Dalam Pemikiran Ahli Falsafah) untuk membahas pemikiran Ibnu Sina dan Al-Farabi. Apapun pandangan yang dikemukakan, sumbangan Ibnu Sina dalam perkembangan falsafah Islam tidak mungkin dapat dipungkiri dan dikesampingkan. Bahkan beliau boleh dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab menyusun ilmu falsafah dan sains dalam Islam. Sesungguhnya, Ibnu Sina tidak saja unggul dalam bidang pengobatan tetapi kehebatan dalam bidang falsafah mengungguli gurunya sendiri yaitu al-Farabi.
Dari semua hal yang pro dan kontra tentang pandangan falsafah Ibu Sina, beliau tetap berpegang teguh bahwa Pandangan dunia Ibnu Sina adalah suatu perlindungan kelebihan Tuhan melalui pemisahan, radikal antara wajib dan ketergantungan, kadang-kadang menekankan sesuatu yang mengalir pada tingkat-tingkat eksistensi kosmik dan wujud yang wajib sebagai hasil yang sangat alamiah dari yang Azali yang menurunkan alam semesta, seperti sangat alamiahnya matahari yang memancarkan cahayanya.



IBNU SINA (AVICENNA)
            Ibnu Sina  atau yang dikenal dengan Avicenna pada dunia barat, terlahir dengan nama Abu Ali al-Hussain Ibnu Abdullah. Beliau lahir di Afshana, dekat Bukhara, Ibukota Samanids, masih dalam lingkup Dinasti Persia di Asia Tengah dan Daratan Tinggi Khorasan pada bulan shafar pada tahun 370 Hijriah bersamaan dengan 980 Masehi. Ayahnya berasal dari Balkh, yang sekarang disebut Afghanistan, dan Ibunya berasal dari Bukhara yang sekarang bernama Uzbekistan. Ibunya bernama Setarah, dan Ayahnya, seorang sarjana terhormat Ismaili, berasal dari Balkh Khorasan, dan pada saat kelahiran putranya dia adalah gubernur suatu daerah di salah satu pemukiman Nuh ibn Mansur, sekarang wilayah Afganistan (dan juga Persia).
Dia menginginkan putranya dididik dengan baik di Bukhara. Ibnu Sina diberi anugerah yaitu kecerdasan yang luar biasa dan ketajaman ingatan. Kelebihan lainnya adalah dalam cara berfikirnya dua langkah lebih maju dari teman-temannya. Ibnu Sina, di usia 14 tahun sudah bisa mengungguli guru-gurunya dalam mempelajari segala sesuatu. Seperti yang dikatakan dalam autobiografinya, beliau mengatakan tidak ada yang tidak aku pelajari ketika mencapai usia 18 tahun.
Sejumlah teori yang berbeda telah diusulkan mengenai madhab yang dipegang diyakini oleh Ibnu Sina. Menurut sejarawan abad pertengahan Zahir al-din al-baihaqi, Ibnu Sina dianggap sebagai pengikut organisasi Persaudaraan Kemurnian. Persaudaraan Kemurnian adalah sebuah organisasi rahasia yang pengikutnya terdiri dari para filsuf arab muslim yang berpusat di BasraIrak yang saat itu merupakan ibukota Kekhalifahan Abassiyah- di sekitar abad ke-10 Masehi. Di lain pihak, seorang pengikut syiah Faqih Nnurullah Shustari dan sejarawan Sayyed Hussein Nasr, keduanya berpendapat kemungkinan besar Ibnu Sina adalah pengikut Syiah Imamiyah. Baru-baru ini, Dimiti Guts membantah kedua pendapat diatas dan menunjukkan bahwa Ibnu Sina adalah seorang Sunni Hanafi. Teori lainnya yang dikemukakan oleh agamawan Henry Corbin, Ibnu Sina dianggap seperti ayahnya yang seorang pengikut ismaili yang baik. Silang pendapat juga terjadi pada latar belakang keluarga Ibnu Sina, sebagian penulis mengatakan bahwa mereka adalah Sunni, tetapi penulis lainnya mengatakan bahwa mereka adalah Syiah. Apapun madhabnya, Ibnu Sina adalah tetaplah seorang ahli pengobatan yang unggul.
Ibnu Sina ditempatkan dibawah pengawasan seorang pengajar, dan pemikiran beliau jauh melebihi seorang yang dewasa ini yang membuat kagum tetangga disekitarnya. Beliau menunjukkan perilaku intelektual yang luar biasa dan sebagai anak ajaib yang berusia 10 tahun, beliau sudah hafal Al-Quran dan sebagai seorang ahli dalam kesusateraan puisi persia. Beliau mengawali belajar aritmatika dari seorang penjual sayur india, dan beliau mulai belajar lebih banyak dari seorang ulama pengembara yang mencari nafkah dengan menyembuhkan orang sakit dan mengajar kaum muda. Beliau juga belajar fiqh di bawah ulama Hanafi Ismail al-Zahid.
Sebagai remaja, beliau mempunyai masalah dengan metafisikanya Aristoteles, yang mana beliau tetap sulit mengerti sampai beliau membaca kumpulan karangan al-Farabi. Untuk tahun berikutnya dan setengah tahun, beliau belajar filosofi, dimana selalu menghadapi kebuntuan. Di saat-saat kebingungannya, beliau akan meninggalkan bukunya untuk mengambil air wudlu, pergi ke masjid, dan melaksanakan sholat sampai memperoleh titik terang untuk semua masalah yang beliau hadapi. Di kedalaman malam Ibnu Sina akan melanjutkan untuk belajar, dan bahkan dalam mimpinya masalah tersebut akan tetap menjadi sesuatu hal yang harus dipecahkan. Empat puluh kali, dia mengucapkan, membaca tentang Metafisikanya Aristoteles, sampai semua kata-kata dalam buku tersebut tercetak dalam ingatannya, tetapi semuanya menjadi sia-sia dan kabur. Sampai suatu saat beliau menemukan pencerahan dari sebuah catatan kecil yang ditulis oleh al-Farabi, dimana dia membelinya dari sebuah kedai buku dengan harga sangat murah hanya 3 dirham. Ibnu Sina sangat gembira  dalam pencariannya, karena dengan buku tersebut Ibnu Sina dapat melanjutkan dalam menggali tetang metafisika aristoteles yang menurut dia menjadi sangat misterius, Ibnu Sina sangat bersyukur kepada Tuhan karena telah dimudahkan jalannya untuk menggali dan mempelajari pandangan aristoteles dan selalu berderma kepada yang kurang beruntung.
Ibnu Sina beralih mempelajari tentang ilmu pengobatan. Ibnu Sina belajar kedokteran di bawah seorang dokter bernama Koushyar. Dan tidak hanya mempelajari tentang teori ilmu pengobatan tetapi juga mempelajari sesuatu yang belum pernah diketahuinya. Sesuai dengan keahliannya, Ibnu Sina mengembangkan metode baru dalam merawat kesehatan. Ibnu Sina sudah mencapai tingkatan tinggi dalam kulifikasi sebagai seorang tabib ketika umur 18 tahun dan berpendapat bahwa Pengobatan tidaklah sulit dan bukan sebuah duri dalam ilmu pengetahuan. Ilmu pengobatan seperti layaknya ilmu matematika dan metafisika, lalu Aku akan mempelajarinya dengan cepat untuk menjadi seorang dokter yang unggul dan memulai untuk merawat pasien menggunakan obat yang ditemukannya. Ibnu Sina menjadi seorang dokter muda yang terkenal dengan sangat cepat, dan beliau tidak pernah meminta imbalan untuk setiap hal yang dia lakukan dalam merawat pasiennya.

The Canon of Medicine adalah karya yang paling terkenal sampai sekarang bahkan sudah dialih bahasakan dalam beberapa bahasa. Baru baru ini, Cina berhasil mengalihbahasakan buku  The Canon of Medicine ke dalam bahasa Cina secara lengkap. Buku tersebut menjadi rujukan wajib untuk menganalisis obat-obatan berdasarkan bukti, percobaan obat-obatan, tes klinis, percobaan acak terkontrol, tes kemanjuran, analisis faktor risiko, dan gagasan dari sindrom pada diagnosa penyakit tertentu. Dan hal lain tentang buku tersebut adalah dijadikannya teks medis standar di universitas-universitas pada abad pertengahan dan menjadi teks wajib di universitas Montpellier dan Louvain hingga akhir 1960. Buku tersebut menyajikan deskripsi dan sistem yang lengkap tentang obat dengan prinsip Galem dan Hipocrates. Selain sebagai ahli pengobatan Ibnu Sina juga seorang astronomkimiageologiHafizpsikolog Islamsarjana Islamteolog Islamahli logikaahli paleontologiahli matematikaguru Maktabfisikawanpenyairdan ilmuwan

No comments:

Post a Comment